Senin, 05 Maret 2012

Golongan darah ABO dan Rhesus

Disusun oleh:
Anila Puspitasari
(30110007)


PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
IIK BHAKTI WIYATA KEDIRI
2011/2012


GOLONGAN DARAH
Dasar penggolongan darah adalah adanya aglutinin (zat yang menggumpal ) dalam serum dan adanya antigen = aglutinogen (zat yang digumpalkan) dalam sel darah merah.
Menurut Karl Landsteiner (1910) , darah manusia terbagi menjadi 4 golongan yaitu golongan darah A,B,AB, dan O. Seseorang yang mempunyai antigen A, yaitu antigen A pada sel darah merahnya, orang tersebut mempunyai golongan A. Seseorang yang mempunyai antigen B, yaitu antigen B pada sel darah merahnya, orang tersebut mempunyai golongan B. Seseorang yang tidak mempunyai antigen A dan B pada sel darah merahnya, orang tersebut mempunyai golongan O, sedangkan golongan AB adalah yang mempunyai antigen A dan antigen B pada sel darah merahnya. Selain golongan ABO, telah ditemukan golongan-golongan darah lain pada sel darah merah manusia, yaitu golongan Rhesus.
SISTEM GOLONGAN DARAH RHESUS
A. DEFINISI GOLONGAN DARAH RHESUS
Golongan Darah Rhesus adalah adanya suatu faktor protein pada sel darah merah. Pertama kali ditemukan oleh Landsteiner dan Weiner tahun 1940 menemukan antigen sistem Rhesus pada sel darah merah. Pertama kali ditemukan melalui penyelidikan-penyelidikan darah kera”Rhesus”. Ternyata diketahui ada orang-orang yang mengandung factor yang sama dengan sel dari darah kera “rhesus” tersebut. Orang-orang ini disebut mempunyai golongan darah Rh positif . Dan orang-orang yang tidak mempunyai factor tersebut golongan darah nya disebut Rh negatif .
Sistem Rh juga penting dalam transfusi darah. Pada sistem ABO, aglutinin bertanggung jawab atas timbulnya reaksi transfusi yang terjadi secara spontan. Sedangkan pada sistem Rh, reaksi aglutinin, spontan hampir tak pernah terjadi. Manusia harus terpajan (terkena secara terus menerus) secara masif dengan antigen Rh yang biasanya melalui transfusi darah atau melalui ibu yang memiliki bayi dengan antigen, sebelum terdapat cukup aglutinin untuk menyebabkan reaksi transfuse.
B. JENIS ANTIGEN DALAM GOLONGAN DARAH RHESUS

Sistem Rhesus ditemukan beberapa macam antigen yaitu Terdapat enam tipe antigen Rh yang salah satunya disebut faktor Rh. Tipe-tipe ini ditandai dengan C, D, E, c, d dan e dan antigen yang utama, yaitu antigen D.
Pembagian golongan darah Rhesus berdasarkan antigen :
1. Orang rhesus positif (Rh+), berarti darahnya memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan dengan reaksi positif atau terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).Dan orang tersebut memiliki faktor protein yang cukup dalam sel darah merahnya.
2. Orang rhesus negatif (Rh-), berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).Dan orang tersebut kekurangan faktor protein dalam sel darah merahnya.
Menurut Landsteiner golongan darah Rh ini termasuk keturunan (herediter) yang diatur oleh satu gen yang terdiri dari 2 alel, yaitu Rh dan rh. Rhdominan terhadap rh sehingga terbentuknya antigen-Rh ditentukan oleh gen dominan Rh. Orang bergolongan darah Rh+ jika mempunyai genotip RhRh atau Rhrh, sedangkan orang Rh- mempunyai genotip rhrh. Faktor Rh dalam darah seseorang mempunyai arti penting dalam klinik.
Contoh kasus Gangguan sitotoksisitas antibodi
Orang yang serum dan plasma darahnya tidak mempunyai anti-Rh dapat dipacu untuk membentuk anti-Rh. Pembentukan anti-Rh ini dapat melalui jalan :
1. Transfusi Darah.
Dalam sistem Rhesus tidak ada anti Rh yang timbul secara alami. Bila dalam tubuh seseorang ada zat anti, anti Rh, pasti hal itu karena immunisasi. Proses immunisasi memerlukan waktu, mungkin beberapa minggu setelah penyuntikan antigen, sebelum zat antinya terbentuk dalam darah.
Seseorang yang mempunyai golongan Rhesus negatif ditransfusi dengan golongan Rhesus positif, pada orang itu dapat berbentuk zat anti atau antibody, yaitu anti-D. misalnya pada seorang perempuan Rh- yang karena sesuatu hal harus ditolong dengan transfusi darah. Darah donor kebetulan Rh+, berarti mengandung antigen-Rh. Antigen-Rh ini akan dipandang sebagai protein asing sehingga perempuan itu akan dipacu membentuk anti-Rh. Serum darah perempuan yang semula bersih dari anti-Rh akan mengandung anti-Rh.Anti-Rh akan terus bertambah jika transfusi dilakukan lebih dari sekali. Anti-Rh akan membuat darah yang mengandung antigen-Rh menjadi menggumpal sehingga perempuan Rh- tersebut tidak bisa menerima darah dari orang Rh+. Orang Rh- harus selalu ditransfusi dengan darah Rh-.
2. Pernikahan dan kehamilan.
Wanita yang mempunyai golongan Rhesus negatif, menikah dengan laki-laki yang mempunyai golongan Rhesus positif, kemudian hamil bayi golongan Rhesus positif, pada wanita tersebut dapat berbentuk zat anti atau antibody, yaitu anti-D. Kasus ini bisa terjadi misalnya seorang perempuan Rh-(genotip rr) menikah dengan laki-laki Rh+ (bergenotip homozigot RR)dan perempuan tersebut hamil. Janin dari pasangan ini tentunya akan bergolongan darah Rh+ (genotip Rr) yang diwarisi dari ayahnya. Sebagian kecil darah janin yang mengandung antigen-Rh tersebut akan menembus plasenta dan masuk kedalam tubuh ibunya. Serum dan plasma darah ibu distimulir untuk membentuk anti-Rh sehinggadarah ibu yang mengalir kembali ke janin mengandung anti-Rh. Anti-Rh ini akan merusak sel darah merah janin yang mengandung antigen-Rh sehingga janin akan mengalami hemolisis eritrosit. Bayi yang menderita Erythroblastosis fetalis bayi kelahiran yang kedua dan seterusnya yang selalu mati karena ibunya Rhesus negatif dan anak pertamanya Rhesus + . Bayi dapat juga hidup, tetapi biasanya akan mengalami cacat, lumpuh, dan retardasi mental.
Hampir semua orang Indonesia mempunyai golongan Rhesus positif. Menurut kepustakaan hampir 100% orang Indonesia adalah Rhesus positif. Dan yang rhesus negative hanya sekitar 0,013%. Sementara itu, orang kulit putih (eropa) yang mempunyai golongan Rh negative 15% dan Rh positif 85%. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Yang dimaksud dengan cocok adalah yang sama golongan ABO-nya, tetapi kadang-kadang walaupun sudah sama golongan ABO-nya, masih terdapat ketidakcocokan, yang disebabkan oleh golongan darah lain, yaitu golongan Rhesus, misalnya: Orang sakit yang mempunyai golongan A Rhesus negatif harus dicarikan golongan A Rhesus negatif lagi. Maka dari itu dalam pelayanan permintaan darah harus diberikan darah yang cocok bagi orang sakit.

0 komentar:

Poskan Komentar